PATITODAY.COM, BOYOLALI — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 01 Desa Kedungmulyo, Universitas Boyolali, mendorong masyarakat mengenal pertanian modern melalui sosialisasi dan praktik budidaya sayuran dengan metode aeroponik bersama Ibu-Ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kegiatan yang menjadi salah satu program kerja unggulan KKN 01 Kedungmulyo tersebut mendapat respons positif dari puluhan anggota PKK. Para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep aeroponik, tetapi juga diajak mempraktikkan secara langsung proses budidaya tanaman menggunakan sistem tanpa tanah tersebut.
Program ini menjadi upaya mahasiswa KKN Universitas Boyolali untuk memperkenalkan alternatif pertanian yang dapat diterapkan masyarakat, khususnya di tengah keterbatasan lahan untuk bercocok tanam.
Kenalkan Budidaya Sayuran Tanpa Tanah
Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa KKN menjelaskan bahwa aeroponik merupakan metode budidaya tanaman yang tidak menggunakan tanah sebagai media tanam utama.
Pada sistem aeroponik, akar tanaman dibiarkan menggantung di udara dan memperoleh nutrisi melalui penyemprotan larutan nutrisi secara berkala. Sistem tersebut memungkinkan tanaman mendapatkan air dan nutrisi secara lebih terkontrol.
Menurut mahasiswa KKN, metode aeroponik dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin menanam sayuran tetapi memiliki keterbatasan lahan.
Pekarangan rumah, teras, maupun ruang kosong dapat dimanfaatkan dengan membuat instalasi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan tanaman.
Selain menghemat penggunaan lahan, sistem budidaya tanpa tanah tersebut juga memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya lingkungan tanam yang relatif bersih dan pengelolaan nutrisi tanaman yang lebih terkontrol.
Peserta Tak Hanya Mendengar Teori
Sosialisasi tidak berhenti pada pemaparan materi. Mahasiswa KKN Kelompok 01 juga menggelar demonstrasi dan praktik langsung agar peserta lebih mudah memahami cara kerja sistem aeroponik.
Peserta diperkenalkan dengan berbagai tahapan, mulai dari menyiapkan alat dan bahan, membuat serta memasang instalasi, menempatkan bibit, memberikan nutrisi, hingga melakukan perawatan tanaman.
Ibu-Ibu PKK juga diberikan kesempatan untuk mencoba beberapa tahapan budidaya yang telah diperagakan mahasiswa.
Interaksi berlangsung cukup aktif. Peserta memanfaatkan sesi diskusi dan tanya jawab untuk menggali lebih jauh mengenai teknis perawatan tanaman.
Sejumlah hal yang menjadi perhatian peserta antara lain jenis sayuran yang cocok ditanam dengan metode aeroponik, kebutuhan nutrisi, perawatan akar, penggunaan air, hingga cara membuat instalasi sederhana yang dapat ditempatkan di rumah.
Antusiasme tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat terhadap alternatif pertanian modern yang dapat diterapkan dalam skala rumah tangga.
Dorong Ketahanan Pangan dari Pekarangan
Mahasiswa KKN Universitas Boyolali berharap pengenalan aeroponik dapat mendorong masyarakat Desa Kedungmulyo lebih kreatif memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar rumah.
Budidaya sayuran di pekarangan dinilai tidak hanya dapat memberikan aktivitas produktif bagi keluarga, tetapi juga berpotensi membantu memenuhi sebagian kebutuhan sayuran rumah tangga.
Dengan memanfaatkan teknologi budidaya yang sesuai, lahan sempit tidak harus menjadi hambatan untuk menghasilkan tanaman pangan.
Peran Ibu-Ibu PKK juga dinilai penting dalam keberlanjutan program tersebut. Pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diterapkan secara mandiri sekaligus dibagikan kepada anggota keluarga dan masyarakat lainnya.
Jika dilakukan secara konsisten, budidaya sayuran dengan metode aeroponik bahkan berpotensi dikembangkan dari skala rumah tangga menjadi kegiatan produktif kelompok masyarakat.
Bentuk Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat
Program sosialisasi aeroponik tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui KKN, mahasiswa Universitas Boyolali berkesempatan mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus memberikan edukasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya ditujukan untuk menjalankan program kerja, tetapi juga membangun interaksi dan kolaborasi dengan warga dalam mencari solusi atas berbagai potensi maupun persoalan yang ada di lingkungan desa.
Pengenalan teknologi pertanian modern menjadi salah satu bentuk transfer pengetahuan yang diharapkan mampu memberikan manfaat setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKN.
Diharapkan Tidak Berhenti Setelah KKN
Mahasiswa KKN Kelompok 01 Desa Kedungmulyo berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas sosialisasi dan praktik selama program KKN berlangsung.
Pengetahuan tentang aeroponik diharapkan dapat terus dikembangkan oleh masyarakat, terutama melalui kelompok PKK yang memiliki peran strategis dalam menggerakkan kegiatan produktif keluarga.
Pengembangan dapat dimulai dari instalasi sederhana untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Jika hasilnya baik dan mendapatkan dukungan masyarakat, sistem tersebut dapat dikembangkan secara lebih luas.
Selain membantu pemanfaatan lahan terbatas, budidaya sayuran aeroponik juga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya inovasi dalam bidang pertanian.
Kegiatan KKN 01 Universitas Boyolali di Desa Kedungmulyo tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pertanian modern tidak selalu harus dimulai dengan skala besar.
Dengan edukasi, praktik sederhana, serta keterlibatan masyarakat, teknologi pertanian dapat diperkenalkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan warga.
Ke depan, keterlibatan aktif Ibu-Ibu PKK diharapkan menjadi salah satu kekuatan untuk mengembangkan budidaya sayuran aeroponik secara berkelanjutan di Desa Kedungmulyo.
Program tersebut sekaligus menjadi langkah kecil untuk mendorong masyarakat desa agar semakin mandiri, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian. (Aris)

