Notification

×

Iklan

Iklan

Simulakrom Wawuk versus Feminisme (LGBT) (1)

30/10/26 | 07:55 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-30T00:56:36Z


"لوْ أَمْرتُ أحَداً أنْ يسجُدَ لأحَدٍ؛ لأمْرتُ المرأَةَ أنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِها"

 *Artinya: “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya.”*

 

Petikan Hadis Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. jika diterjemahkan secara bebas intinya kalau boleh manusia menyembah, dan bersujud  selain kepada Allah, maka diperintahkan, para istri (wanita) untuk sujud, menyembah (baca hormat) pada suamimu.


Karena betapa besarnya perjuangan, dan pengorbanan suami, dan dialah yang dapat membawamu  (istri ) ke surga. Kali ini Kang Sosro berbicara lain dari biasanya. Kalau biasanya suka politik, dan nggedapruz sekenanya, bahkan sampai lupa waktu. Kali ini lebih religius.

 

‘’Kita diskusi agama saja, ngomong fulitik (politik maksudnya) tambah mumet, Omongane pathing jeblung ora genah kabeh,’’begitu ucapnya penuh semangat. (Maaf) terminilogi ‘wawuk’ masih menjadi senerai (narasi bersambung), karena merangkum banyak dimensi yang tidak bisa direpresentasikan secara tunggal. ‘’Jangan dikontradiksikan, legacy Allah seperti firmannya di Al quran. Wanita itu kodratnya ya wanita. Emansipasi boleh, tetapi apa pun dan bagaimana pun wanita tidak bisa jadi imam,’’begitu Kang Sosro berkhotbah.


Entah apa yang membuat dia (Kang Sosro) punya pandangan seperti itu (maksudnya tentang simolakrum wawuk). Jujur saja, banyak teman-teman dia, termasuk saya sendiri  kaget, dalam arti kagum dengan perubahan itu. Pandangan-pandangannya lebih bervisi, tidak asal ngomong, apalagi njeplak, seperti vokali yang jadi ‘watimpred’ eeeh maksudnya Wantimpres. Sekarang narasi dia (Kang Sosro) ada pijakan teori malah literaturnya atau bacaannya oke juga. Itu (kemajuan) yang membuat Rizal suka meriung berlama-lama dengan dengannya juga. ‘’Kita ini sering tidak jujur, ibu peradaban ya ‘wawuk’. Pemimpin dan tokoh besar karena ada wanita agung yang mendampinginya. Khadijah dan Aisyah adalah wanita mulia di sisi Rosulullah. Ada Ibu Tien Soeharto di sisi Pak Harto. Ada sosok Ainun di samping Habibie, kemudian bu Ani Yudhoyono dan Iriana Joko Widodo’’urai Kang Sosro.


Rizal jadi geleng-geleng, ‘’Yok opo rek, Ini war biasa, war biasa, war biasa!! (maksudnya luar biasa).Kang Sosro wis hijrah tenan. Sudah meninggalkan dunia hitam. Malahan ud jadi renaisance.’’begitu Rizal mengurai sendiri dalam hati. Yang membuat Rizal kagum pengethuan yang dimiliki Kang Sosro. ‘’Apa karena kuliah S3 referensi jadi luas, Cancuk, Kang Sosro, Kang Sosro opo,o salah obat yo,’’guman Rizal sembari dalam-dalam menghisap cerutunya.


Yang membuat Rizal bingung campur aduk soal Kang Sosro, ‘’Kok bisa dia paham simulakrom. Simulakrom wawuk vs feminisme. Wis sak karepmu, gak urus aku,’’ ujarnya Rizal mengrundel sendiri, bingun sendiri. Kelindan Sosro, Rizal, Pak Wo bukan sehari dua hari, setahun dua tahun. Itu yang membuat temen-temen bingung.


Beruntung saat buntu nyaris menyergo, Pujo datang. Sahabat SD, anak Mbah Sastro, dukun Ndolalak ini rajin lima waktu, apalagi subuh tidak pernah ketinggalan selalu jamaah di masjid. ‘’Monggo pinarak, dilanjut wirungganne di rumah sambil ngopi,’’begitu Pujo menyela sembari menawarkan usul yang simpatik sekaligus memikat.


Beranda rumah Pujo apik dan asri. Dia dipasrahi bapaknya menjadi penerus padepokan. Lepas SMA, sejawat seperti saya merantau Pujo tetap bertahan di Desa. Dasar orang baik, ikut CPNS diterima, sekarang malah jadi lurah. Setiap pulang kampung silaturahmi meriung di beranda rumahnya yang asri tak pernah ketinggalan. Apalagi malam semilir sejuk, sembari dihibur suara gemericik Kali Kidu yang melintas depan rumahnya.


Damai, bahagia sekali.

Desa kami, yang sekarang dipimpin Pujo sebagai Kadesnya salah satu tempat pengikut Pangeran Diponergo bersembunyi. Jangan heran pohon kantil dan sawo banyak tumbuh di sini. Kantil dan Sawo sebenarnya pohon simbolik yang menjadi identitas pengikut Pangeran Diponergoro.


"Kang Sosro, monggo disambi kopinya,’’ungkapan khas untuk mempersilahkan tamu menikmati suguhan. ‘’Mau ada FGD (focus group discussion) ya. Temanya apa, saya usul sekali waktu soal kemandirian desa, tidak politik terus,’’sergah Pujo. ‘’Ok ok, tema ke,andirian desa, ketahanan desa setuju, Tapi minggu depan, minggu ini masih seri ‘Simulakrom ‘Wawuk’,’’ respon Kang Sosrto khawatir rencananya jadi berubah.


Kang Sosro kemudian bernarasi, negeri ini tak lepas dari negara yang dihinggapi fenomena simolkrum di atas, yaitu wawuk. ‘’Jangan dikonotasikan negatif, esensi peradaban, kekuasan rahim dan muaranya juga ada di sini (Wawuk-red),’’terang Kang Sosro. ‘’Mulai dari zaman nabi, Firaun, sampai sekarang rahimnya sama, muaranya sama, ya ‘wawuk!’. Maka ketika pemimpin tersubordinasi, dan tidak kukuh benteng spiritual, sebagai imam eksistensi kepemimpinannya cenderung rapuh,’’urai Kang Sosro.


Nabi Muhammad, utuh, paripurna menjadi rosul, juga imam, sekaligus pemimpin umat karena Khadijah melebur menjadi satu. Khadijah yang sebelumnya adalah saudagar, perempuan kuat, berkuasa, tetapi menanggalkan dan menghibahkan seluruhnya demi syiar, demi ridlo suami. ‘’Nabi Muhammad tidak pernah menduakan, berpoligami ketika Khadijah masih hidup mendampinginya. Dia juga wanita yang paling mulai di sisi nabi,’’urai Kang Sosro.


‘’Pemimpin-pemimpin Republik ini, sebut Bung Karno, Soeharto, Habibi, SBY, dan Jokowi, bahkan Prabowo kukuh karena wanita-wanita hebat yang mendampinginya,’’itu fakta tegas Sosro. ‘’Simulakrum wawuk diejawantahkan dalam konteks seperti itu, jadi jangan dinafikkan, apalagi dinilai tabu, keblinger, atau kebablasan, bukan!!, Ingat itu. ‘’Sosro kembali meneguhkan dengan suara meninggi.


‘’Saya berdoa, saya berharap Pak Prabowo bersatu, rujuk kembali dengan Ibu Titik Soeharto, selesai! Tidak akan pincang, tidak ada selip, selip ucapan, seperti kemarin-kemarin. Gimana Pak Presiden mosok ada pernyataan desa nggak perlu dolar?,’’tambahnya penuh keyakinan.


Ketika Kang Sosro berapi-api membeber tokoh-tokoh dan pemimpin Republik ini, Pujo menimpali, ‘’Saya nggak paham simolakrum. Yang saya pahami Pak Prabowo dan Bu Titiek tidak berpisah, tetapi dipisahkan. Saya yakin kalau beliau bersatu akan membawa kekuatan, juga keberkahan untuk negara, untuk Indonesia.’’ujar Pak Kades, Pujo Susastro. ‘’Pak Prabowo, Pak Prabowo, Pak Presiden sudah ke Prancis, monggo, silakan belajar pada Emanuel Macron. Kisah cintanya Dahsyat Sungguh, war biasa, war biasa,’’ujar Kang Sosro. (bersambung)

 

Penulis, Wartawan Seniior, Ahli Pers Dewan Pers. Selain aktif menjadi Ahli Pers dipercaya menjadi Ketua SMSI Jawa Tengah juga Wakil Ketua SMSI Pusat. Iniisiator MOJO (Mobil Journalis Indonesia) dan menjadi Ketua Umum. Selain itu ikut berkontribusi di Satu Pena, organisasi penulis yang diketuai Denny JA. Alumni FIB Undip dan sedang menempuh program doktoral di Unsoed Purwokerjo, konsentrasi Komunikasi Agribisnis.

×
Berita Terbaru Update