"لوْ أَمْرتُ أحَداً أنْ يسجُدَ لأحَدٍ؛ لأمْرتُ المرأَةَ أنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِها"
*Artinya: “Seandainya aku boleh memerintahkan
seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan para
istri untuk sujud kepada suaminya.”*
Petikan Hadis Nabi Muhammad SAW,
diriwayatkan Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. jika diterjemahkan secara
bebas intinya kalau boleh manusia menyembah, dan bersujud selain kepada Allah, maka diperintahkan, para
istri (wanita) untuk sujud, menyembah (baca hormat) pada suamimu.
Karena betapa besarnya perjuangan, dan
pengorbanan suami, dan dialah yang dapat membawamu (istri ) ke surga. Kali ini Kang Sosro
berbicara lain dari biasanya. Kalau biasanya suka politik, dan nggedapruz
sekenanya, bahkan sampai lupa waktu. Kali ini lebih religius.
‘’Kita diskusi agama saja, ngomong fulitik
(politik maksudnya) tambah mumet, Omongane pathing jeblung ora genah
kabeh,’’begitu ucapnya penuh semangat. (Maaf) terminilogi ‘wawuk’ masih menjadi
senerai (narasi bersambung), karena merangkum banyak dimensi yang tidak bisa
direpresentasikan secara tunggal. ‘’Jangan dikontradiksikan, legacy Allah
seperti firmannya di Al quran. Wanita itu kodratnya ya wanita. Emansipasi
boleh, tetapi apa pun dan bagaimana pun wanita tidak bisa jadi imam,’’begitu
Kang Sosro berkhotbah.
Entah apa yang membuat dia (Kang Sosro)
punya pandangan seperti itu (maksudnya tentang simolakrum wawuk). Jujur saja,
banyak teman-teman dia, termasuk saya sendiri
kaget, dalam arti kagum dengan perubahan itu. Pandangan-pandangannya
lebih bervisi, tidak asal ngomong, apalagi njeplak, seperti vokali yang jadi
‘watimpred’ eeeh maksudnya Wantimpres. Sekarang narasi dia (Kang Sosro) ada
pijakan teori malah literaturnya atau bacaannya oke juga. Itu (kemajuan) yang
membuat Rizal suka meriung berlama-lama dengan dengannya juga. ‘’Kita ini
sering tidak jujur, ibu peradaban ya ‘wawuk’. Pemimpin dan tokoh besar karena
ada wanita agung yang mendampinginya. Khadijah dan Aisyah adalah wanita mulia
di sisi Rosulullah. Ada Ibu Tien Soeharto di sisi Pak Harto. Ada sosok Ainun di
samping Habibie, kemudian bu Ani Yudhoyono dan Iriana Joko Widodo’’urai Kang
Sosro.
Rizal jadi geleng-geleng, ‘’Yok opo rek,
Ini war biasa, war biasa, war biasa!! (maksudnya luar biasa).Kang Sosro wis
hijrah tenan. Sudah meninggalkan dunia hitam. Malahan ud jadi
renaisance.’’begitu Rizal mengurai sendiri dalam hati. Yang membuat Rizal kagum
pengethuan yang dimiliki Kang Sosro. ‘’Apa karena kuliah S3 referensi jadi
luas, Cancuk, Kang Sosro, Kang Sosro opo,o salah obat yo,’’guman Rizal sembari
dalam-dalam menghisap cerutunya.
Yang membuat Rizal bingung campur aduk soal
Kang Sosro, ‘’Kok bisa dia paham simulakrom. Simulakrom wawuk vs feminisme. Wis
sak karepmu, gak urus aku,’’ ujarnya Rizal mengrundel sendiri, bingun sendiri.
Kelindan Sosro, Rizal, Pak Wo bukan sehari dua hari, setahun dua tahun. Itu
yang membuat temen-temen bingung.
Beruntung saat buntu nyaris menyergo, Pujo
datang. Sahabat SD, anak Mbah Sastro, dukun Ndolalak ini rajin lima waktu,
apalagi subuh tidak pernah ketinggalan selalu jamaah di masjid. ‘’Monggo
pinarak, dilanjut wirungganne di rumah sambil ngopi,’’begitu Pujo menyela
sembari menawarkan usul yang simpatik sekaligus memikat.
Beranda rumah Pujo apik dan asri. Dia
dipasrahi bapaknya menjadi penerus padepokan. Lepas SMA, sejawat seperti saya
merantau Pujo tetap bertahan di Desa. Dasar orang baik, ikut CPNS diterima,
sekarang malah jadi lurah. Setiap pulang kampung silaturahmi meriung di beranda
rumahnya yang asri tak pernah ketinggalan. Apalagi malam semilir sejuk, sembari
dihibur suara gemericik Kali Kidu yang melintas depan rumahnya.
Damai, bahagia sekali.
Desa kami, yang sekarang dipimpin Pujo
sebagai Kadesnya salah satu tempat pengikut Pangeran Diponergo bersembunyi.
Jangan heran pohon kantil dan sawo banyak tumbuh di sini. Kantil dan Sawo
sebenarnya pohon simbolik yang menjadi identitas pengikut Pangeran Diponergoro.
"Kang Sosro, monggo disambi kopinya,’’ungkapan khas untuk mempersilahkan tamu menikmati suguhan. ‘’Mau ada FGD (focus group discussion) ya. Temanya apa, saya usul sekali waktu soal kemandirian desa, tidak politik terus,’’sergah Pujo. ‘’Ok ok, tema ke,andirian desa, ketahanan desa setuju, Tapi minggu depan, minggu ini masih seri ‘Simulakrom ‘Wawuk’,’’ respon Kang Sosrto khawatir rencananya jadi berubah.
Kang Sosro kemudian bernarasi, negeri ini
tak lepas dari negara yang dihinggapi fenomena simolkrum di atas, yaitu wawuk.
‘’Jangan dikonotasikan negatif, esensi peradaban, kekuasan rahim dan muaranya
juga ada di sini (Wawuk-red),’’terang Kang Sosro. ‘’Mulai dari zaman nabi,
Firaun, sampai sekarang rahimnya sama, muaranya sama, ya ‘wawuk!’. Maka ketika
pemimpin tersubordinasi, dan tidak kukuh benteng spiritual, sebagai imam
eksistensi kepemimpinannya cenderung rapuh,’’urai Kang Sosro.
Nabi Muhammad, utuh, paripurna menjadi
rosul, juga imam, sekaligus pemimpin umat karena Khadijah melebur menjadi satu.
Khadijah yang sebelumnya adalah saudagar, perempuan kuat, berkuasa, tetapi
menanggalkan dan menghibahkan seluruhnya demi syiar, demi ridlo suami. ‘’Nabi
Muhammad tidak pernah menduakan, berpoligami ketika Khadijah masih hidup
mendampinginya. Dia juga wanita yang paling mulai di sisi nabi,’’urai Kang
Sosro.
‘’Pemimpin-pemimpin Republik ini, sebut
Bung Karno, Soeharto, Habibi, SBY, dan Jokowi, bahkan Prabowo kukuh karena
wanita-wanita hebat yang mendampinginya,’’itu fakta tegas Sosro. ‘’Simulakrum
wawuk diejawantahkan dalam konteks seperti itu, jadi jangan dinafikkan, apalagi
dinilai tabu, keblinger, atau kebablasan, bukan!!, Ingat itu. ‘’Sosro kembali
meneguhkan dengan suara meninggi.
‘’Saya berdoa, saya berharap Pak Prabowo
bersatu, rujuk kembali dengan Ibu Titik Soeharto, selesai! Tidak akan pincang,
tidak ada selip, selip ucapan, seperti kemarin-kemarin. Gimana Pak Presiden
mosok ada pernyataan desa nggak perlu dolar?,’’tambahnya penuh keyakinan.
Ketika Kang Sosro berapi-api membeber
tokoh-tokoh dan pemimpin Republik ini, Pujo menimpali, ‘’Saya nggak paham
simolakrum. Yang saya pahami Pak Prabowo dan Bu Titiek tidak berpisah, tetapi
dipisahkan. Saya yakin kalau beliau bersatu akan membawa kekuatan, juga
keberkahan untuk negara, untuk Indonesia.’’ujar Pak Kades, Pujo Susastro. ‘’Pak
Prabowo, Pak Prabowo, Pak Presiden sudah ke Prancis, monggo, silakan belajar
pada Emanuel Macron. Kisah cintanya Dahsyat Sungguh, war biasa, war
biasa,’’ujar Kang Sosro. (bersambung)
Penulis, Wartawan Seniior, Ahli Pers
Dewan Pers. Selain aktif menjadi Ahli Pers dipercaya menjadi Ketua SMSI Jawa
Tengah juga Wakil Ketua SMSI Pusat. Iniisiator MOJO (Mobil Journalis Indonesia)
dan menjadi Ketua Umum. Selain itu ikut berkontribusi di Satu Pena, organisasi
penulis yang diketuai Denny JA. Alumni FIB Undip dan sedang menempuh program
doktoral di Unsoed Purwokerjo, konsentrasi Komunikasi Agribisnis.

