![]() |
| Refleksi Gagasan Cak Imin dan Otentisitas Perjuangan Kaum Mustad'afin |
Instruksi Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), agar seluruh pengurus dan kader partai di Indonesia membedah pemikiran Sosialisme Islam ala Ali Shariati dan H.O.S. Tjokroaminoto adalah sebuah langkah taktis yang patut didukung. Di tengah realitas sosial saat ini—di mana banyak lapisan masyarakat masih merasa terjepit dan tertindas secara ekonomi—parpol berbasis massa Islam memang sudah sepatutnya menyegarkan kembali komitmen ideologisnya terhadap pembelaan kaum miskin (mustad'afin).
Bagi mayoritas muslim maupun nonmuslim, Islam jamak dipahami sebagai sebuah panduan hidup terstruktur. Al-Qur'an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca atau dihafal, melainkan diresapi isinya melalui proses berpikir, memperhatikan realitas, dan memetik ibrah (pelajaran). Ketika seorang muslim mampu menghubungkan antara fenomena sosial sehari-hari dengan teks suci, lalu menerjemahkannya dalam tindakan nyata, di situlah ia menjelma menjadi manusia yang 'alim 'allamah.
Namun, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: mengapa kader-kader politik hari ini perlu menengok kembali pada teori sosialisme Ali Shariati dan Tjokroaminoto? Jawabannya terletak pada corak berpikir praksis kedua tokoh tersebut.
Ali Shariati, sosiolog revolusioner asal Iran, berhasil merumuskan konsep "Sosialisme Humanis" atau "Sosialisme Penyembah Tuhan". Ia mengawinkan pisau analisis marxisme Barat dengan teologi metafisik Islam. Bagi Shariati, Islam bukanlah candu ritualistik, melainkan sebuah ideologi pembebasan progresif yang puncaknya menjadi bahan bakar intelektual Revolusi Iran 1979. Di sisi lain, H.O.S. Tjokroaminoto melahirkan sintesis lokal melalui buku monumentalnya, Islam dan Sosialisme (1924). Guru bangsa ini menegaskan bahwa umat Islam tidak perlu mengemis ideologi ke Barat untuk menegakkan keadilan, sebab esensi sosialisme sejati—pemerataan, kebebasan, dan persaudaraan—telah dicontohkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad SAW sejak 13 abad silam.
Otokritik Tradisi Ilmiah: Menggali Mutiara Lokal yang Terlupakan
Mengkaji pemikiran tokoh global setingkat Shariati atau figur nasional sekelas Tjokroaminoto tentu sangat bergengsi. Namun, jika kita mau jujur dan jeli, bumi nusantara sebenarnya menyimpan mutiara lokal yang tidak kalah dahsyat konsep "sosialisme"-nya. Tokoh itu adalah K.H.R. Asnawi Kudus (KH. R. Asnawi Bendan).
Sayangnya, hingga hari ini, warisan pemikiran sosio-ekonomi beliau hampir tidak pernah disentuh, digali, apalagi diteliti secara mendalam oleh akademisi maupun struktural partai. Di titik inilah saya ingin melayangkan sebuah otokritik yang fundamental: Lalu buat apa setiap tahun haul beliau diperingati secara megah? Apakah perayaan itu sekadar menjadi ritual rutinitas tahunan yang kehilangan substansi?
Padahal, rekam jejak historis Mbah Asnawi sangat luar biasa. Beliau adalah sahabat karib Tjokroaminoto. Kedekatan ideologis inilah yang melatarbelakangi mengapa saat Mbah Asnawi bermukim lama di Makkah, ia didaulat menjadi penasihat utama Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah. Ketika "pulang kampung" pada tahun 1916, beliau pun langsung mengemban amanah sebagai penasihat SI Cabang Kudus.
Berbeda dengan Tjokroaminoto yang menuangkan gagasannya dalam manifesto tertulis, "sosialisme" KH. R. Asnawi tidak mewujud sebagai teori ideologis formal di atas kertas. Sosialisme Mbah Asnawi adalah sosialisme praksis. Perjuangannya mewujud nyata melalui emansipasi sosial, pembentukan kemandirian ekonomi pribumi menantang dominasi asing, hingga perlawanan radikal terhadap kapitalisme kolonial. Sebagai ulama yang 'alim 'allamah sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), beliau menerjemahkan keadilan sosial langsung ke dalam gerakan konkret membela hak-hak wong cilik.
Secara pribadi, saya melihat model "sosialisme" aplikatif ala KH. R. Asnawi ini jauh lebih membumi dan menarik untuk diterapkan di konteks lokal kita. Ketika saya menuliskan sekelumit kisah mengenai keberanian Mbah Asnawi menolak membayar pajak bumi kepada pemerintah kolonial, tulisan tersebut untungnya ditanggapi serius dan diulas secara apik-saintifik oleh shahib saya, Gus Mujab.
Namun, apa yang terjadi setelah tulisan ilmiah itu terbit? Apakah ruang publik kita meresponsnya dengan "jagong ilmiah", sarasehan, Focus Group Discussion (FGD), atau seminar? Tidak sama sekali. Sunyi.
Membangun Daya Kritis Generasi Muda
Realitas ini membawa kita pada satu kesimpulan mendesak: membangun daya kritis generasi muda, terutama kaum santri, harus menjadi prioritas utama hari ini. Generasi muda tidak boleh lagi terus-menerus dikurung dalam ruang kajian yang hanya berkutat pada fikih normatif universal: halal, haram, makruh, mubah, wajib, dan sunnah. Sudah saatnya mereka diajak meloncat ke wilayah fikih sosial-politik: bagaimana membela rakyat yang tertindas, bagaimana mengarahkan serta mengawal para pemimpin agar menjalankan kekuasaannya dengan amanah, dan bagaimana meruntuhkan ketimpangan struktur sosial.
Gagasan Cak Imin untuk membedah sosialisme Islam wajib disambut hangat. Namun, alangkah lebih paripurna jika kajian tersebut tidak berhenti pada Shariati atau Tjokroaminoto saja. Kader partai, kaum santri, dan aktivis pergerakan harus mulai membuka tabir sejarah lokal mereka sendiri. Menggali kembali heroisme sosialisme praksis ala KH. R. Asnawi Kudus adalah langkah awal untuk membuktikan bahwa Islam sejak dahulu adalah agama yang bergerak, melawan, dan berpihak penuh pada keadilan sosial.
Moh. Aslim Akmal - Pegiat Sejarah dan Budaya Kudus Kulon - tinggal di Kudus - 7 November 2026

